DBatik Memanfaatkan Teknologi 3D Printing untuk Cetakan Batik

Cetakan batik dari material 3d printing

Batik adalah salah satu dari warisan budaya dunia dari Indonesia. UNESCO telah menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

Dalam pameran Semarak IKMA 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia di Balai Kartini pada 11-12 Desember 2019 kemarin ada salah satu startup yang mengusung bidang batik yang dikemas dalam teknologi 4.0. Nama dari startup tersebut adalah DBatik. Meraih juara I dalam kategori Comptech Internet of Things, dengan mengusung teknologi aplikasi desain batik dan memanfaatkan teknologi 3D Printing untuk membuat alat batik cetak.

Perusahaan ini digagas oleh lima orang yang berperan sebagai CEO, pengembang aplikasi, desainer, marketing, cetak 3D, dan finance. Rizka Alfiana, CEO dari DBatik saat ini masih menjalani kuliah di UNNES Semarang semester 5. Rizka mengatakan ide awalnya adalah berawal dari kesulitan para perajin untuk membuat desain dan mendapatkan material cetakan dari tembaga. Pencetak tembaga saat ini dijual di kisaran 700 ribu hingga 2 juta rupiah. Dengan aplikasi DBatik, kini perajin bisa membuat sendiri motif desain cetakan dengan mudah, dan membuat cetakannya menggunakan teknologi 3D Printing. Harga dari cetakan 3d printing berkisar 200 ribu hingga 400 ribu rupiah.

“Saat ini kami masih dalam tahap pengembangan dan pengenalan. Kami menegaskan bahwa teknologi ini adalah hanya sebagai sarana alat bantu yang memudahkan, bukan menggantikan manusia” tegas Rizka. Aplikasi DBatik saat ini masih gratis dan bisa didapatkan di dbatik.id.